Selasa, 25 Desember 2018

WANITA DIRINDU SURGA

MAYORITAS PENGHUNI SURGA ?

          Dalam suatu kondisi, mayoritas penghuni surga adalah wanita. Hal itu jika kita mengumpulkan semua wanita mukmin di muka bumi ini bersama dengan para bidadari surga. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Bukhari Muslim bahwa Muhammad bin Sirin berkata, "Mereka saling membanggakan diri atau saling bertukar pikiran tentang laki-laki atau perempuan yang berjumlah paling banyak menghuni surga. Lalu Abu Hurairah berkata, 'Bukankah Abu Qasim SAW telah bersabda:

"Sesungguhnya wajah golongan pertama yang masuk surga laksana bulan purnama, dan wajah golongan yang masuk setelahnya ibarat sinar bintang yang berkilauan di langit. Masing-masing mereka mendapatkan dua orang istri yang sumsum tulang betisnya terlihat dari balik dagingnya."
(Shahih Muslim: VIII/145)

        Di surga tidak ada yang membujang. Jika istri-istri yang dimaksudkan itu dari kaum wanita, maka kaum wanita di dunia ini lebih banyak daripada laki-laki. Tetapi bila yang dimaksud adalah para bidadari surga, maka keberadaan mereka di dunia tidak harus lebih banyak dari laki-laki. Pada dasarnya, istri-istri itu adalah bidadari surga. Hal ini berdasarkan hadits Imam Ahmad yang meriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda:

"Bagi seorang lelaki ahli surga, dua orang istri dari kalangan bidadari. Setiap bidadari memakai tujuh puluh lapis pakaian, sumsum tulang betisnya terlihat dari balik pakaiannya." 
(Musnad Ahmad: II/345)

          Maksudnya, semua yang ada pada diri bidadari itu terlihat, sampai-sampai sumsum yang ada di dalam tulang betis pun terlihat. Dengan demikian, kaum wanita menjadi mayoritas penghuni surga jika dijadikan satu dengan para bidadari surga. Tetapi jika kaum wanita saja, maka mereka menjadi minoritas penduduk surga dan mayoritas penghuni neraka. (Silahkan merujuk pada kitab Nisa'u Ahlin Nar)


WANITA YANG DIJANJIKAN SURGA

1. SARAH, Istri Nabi Ibrahim As
          Dia adalah istri seorang nabi dan rasul, ibu seorang nabi, nenek seorang nabi, dan buyut seorang nabi. Dialah tempat berakhirnya nasab puluhan nabi dan madu dari ibu seorang nabi (Hajar). 


Yusuf bin Abu Ishaq meriwayatkan dari ayahnya bahwa Fatimah berkata,"Wahai Rasulullah, demi Allah hidupku ini tidak akan berguna sampai engkau bertanya kepada Jibril tentang ibuku." Maka Rasulullah menanyakannya dan Jibril menjawab,"Kelak di surga, dia berada di antara Maryam dan Sarah." 
(Dikeluarkan oleh Ibnu As-Sunni dan disebutkan dalam Al-Muhib AthThabari (49).


          Dialah tempat berakhirnya nasab para nabi Bani Israil dari arah ibu, yaitu Musa, Harun, Daud, Sulaiman, Zakaria, Yahya, 'Uzair, Armiya, Isa, dan yang lainnya.Saat itu, Ibrahim dan Luth pergi menuju Syam. Disanalah beliau bertemu dengan Sarah, putri pamannya, Haran, yang kepadanya dinisbatkan Al-Harran. Kemudian, Ibrahim menikahi Sarah. Dia sangat mencintainya karena faktor agamanya, kekerabatannya, dan pesona kecantikkannya. Bahkan berdasarkan riwayat, setelah masa Hawa hingga Sarah, tak ada seorang pun wanita yang menandingi kecantikannya. Dalam sejarah hidupnya yang berharga, kita dapati bahwa kehidupan Sarah disertai dua peristiwa. Peristiwa pertama adalah ujian dan cobaan ketika hijrah ke Mesir bersama Ibrahim. Raja Mesir yang bernama 'Amr bin Imri' Al-Qais bin Mailun adalah seorang raja yang kafir, cabul, dan suka berpesta. Dia adalah seorang raja diraja yang lalim dan tidak mengenal belas kasih. Apabila melihat wanita cantik, dia selalu ingin memilikinya. Jika wanita itu telah bersuami, maka dia akan menceraikannya dari suaminya. Adapun jika dia adalah seorang saudara perempuan dari seseorang, maka dia akan membiarkannya.
Rasulullah bersabda dalam sebuah hadits shahih, "Nabi Ibrahim As tidak pernah berdusta kecuali tiga kali. Pertama, ketika diajak menyembah berhala oleh kaumnya, beliau berkata, ' Sesungguhnya aku sakit.' (Ash-Shaffat:89). Kedua, perkataannya kepada Namrud setelah menghancurkan berhala-berhala, 'Sebenarnya patung yang besar itulah yang melakukannya.' (Al-Anbiya':63). Ketiga, ketika ditanya tentang Sarah beliau berkata,'Dia adalah saudara perempuanku'."

       Rasulullah SAW bersabda,"Suatu ketika, Ibrahim memasuki suatu wilayah yang dikuasai oleh seorang raja yang lalim. Diceritakan kepada raja tersebut bahwa Ibrahim memasuki wilayah itu pada malam hari bersama-sama dengan seorang wanita cantik. Maka raja yang lalim itu mengirimkan utusan kepadanya dan bertanya, 'Siapakah orang yang bersamamu ini?' Ibrahim menjawab,'Saudara perempuanku.'Kemudian utusan raja itu berkata,'Kirimkanlah dia kepada raja.'
     Ibrahim pun mengirimkan Sarah kepada raja dan berkata kepadanya,'Janganlah engkau menyalahi perkataanku. Sesungguhnya aku telah memberitahunya bahwa engkau adalah saudara perempuanku, karena di negeri ini tidak ada seorang mukmin pun kecuali aku dan engkau.'
          Ketika Sarah datang ke istana, ternyata sang raja memintanya untuk tinggal bersamanya. Setelah mendengar permintaan itu, Sarah pun berwudhu dan melaksanakan shalat kemudian berdoa,'Ya Allah, jika Engkau tahu bahwa aku beriman kepada-Mu dan rasul-Mu dan aku menjaga kehormatanku untuk suamiku, maka jangan Engkau biarkan aku dikuasai oleh orang kafir ini."
          Rasulullah melanjutkan,"(Tiba-tiba) raja itu merasa sangat terkesan dan seolah tercekik jatuh. Ia berkata kepada Sarah,'Berdoalah kepada Allah supaya Dia melepaskanku dan aku tidak akan mencelakaimu.'
           Ia pun berdoa kepada Allah hingga raja terbebas. Ternyata, sang raja mencoba meraihnya untuk yang kedua kali. Namun (tiba-tiba) ia kembali merasa tercekik, bahkan lebih kuat dari yang pertama. Kemudian ia kembali meminta kepada Sarah,'Berdoalah kepada Allah supaya Dia melepaskanku dan aku tidak akan mencelakaimu.'
          Ia pun berdoa kepada Allah hingga sang raja kembali terbebas. Setelah itu, sang raja mencoba meraihnya kembali untuk ketiga kali. Dan seketika itu (tiba-tiba) ia kembali merasa tercekik lagi, bahkan lebih parah dari sebelumnya. Lalu ia meminta kepada Sarah,'Berdoalah kepada Allah supaya Dia melepaskanku dan aku tidak akan mencelakaimu.'
         Ia pun berdoa kepada Allah hingga sang raja kembali terbebas. Kemudian sang raja memanggil para pengawalnya dan berkata kepada mereka,'Kalian telah mengirimkan setan kepadaku. Kembalikan dia kepada Ibrahim dan berikan Hajar kepadanya'." Rasulullah melanjutkan," Setelah itu, Sarah pun kembali kepada Ibrahim dan berkata,'Aku merasa bahwa Allah telah membalas tipu daya orang kafir itu dan memberiku seorang budak perempuan untuk kujadikan pelayan'."(Musnad Ahmad : XX/10)
            Peristiwa yang kedua terjadi setelah Hajar datang. Nabi Ibrahim menikahinya karena berkeinginan memiliki anak. Sehingga Allah menganugrahkan Ismail kepadanya. Pada saat yang bersamaan sebenarnya Sarah pun mengharapkan seorang anak. Tapi dia mengira itu adalah hal yang mustahil baginya karena ia telah lanjut usia dan mandul. Demikian juga suaminya telah berusia lanjut dan mandul. Namun, tidak ada sesuatu pun di langit dan bumi yang mampu menghalangi kekuasaan Allah. Turunlah anugerah Ilahi dan datanglah perintah Allah untuk memuliakan Sarah dengan seorang anak. Kemudian Allah mengutus malaikat terdekat-Nya (Jibril, Mikail, dan Israfil) untuk memberinya kabar gembira dengan kelahiran Ishaq, setelah itu akan disusul dengan kelahiran Ya'qub.

2. ASIYAH Binti Muzahim, Istri Fir'aun
          Asiyah binti Muzahim adalah wanita yang paling utama di surga dan menjadi teladan bagi istri-istri Rasulullah. Dia telah berhasil mengguncangkan singgasana kekafiran dan menghancurkan istana kemusyrikan serta penyembahan berhala. Kedudukannya sepadan dengan ibu kaum wanita Bani Israil, Maryam. Keimanannya sangat kuat, hubungannya dengan Allah sangat erat, pemahamannya tentang islam sangat dalam, perkataannya sangat ramah, ucapannya selalu tepat dan akurat, serta permohonannya sangat lembut. 
          Al-Qur'an menceritakan tentang kisah Asiyah binti Muzahim dalam dua peristiwa.
          Ketika Musa As dipungut oleh keluarga Fir'aun, sebenarnya ia berada di tangan orang yang keji, pendosa, dan jahat. Tetapi, kekuasaan Allah secara jelas menentang Fir'aun, Haman, dan bala tentaranya. Mereka mencari semua anak laki-laki yang lahir dari kaum Musa, lalu membunuhnya karena khawatir akan menentang kekuasaan, tahta, dan diri mereka. Bahkan mereka juga menyebarkan mata-mata dan para intelijen kerajaan.
          Allah SWT berfirman."Wahai raja lalim yang terpedaya oleh banyaknya bala tentara dan kuat serta luasnya kekuasaan yang engkau miliki, sesungguhnya Allah Zat Yang Maha Agung. KetentuanNya tidak tertandingi dan tidak bisa dihalang. Dia telah menetapkan bahwa anak laki-laki yang engkau waspadai, yang karenanya telah kau membinasakan banyak jiwa, anak yang tidak diasuh kecuali di dalam rumahmu dan di atas kasurmu, tidak makan kecuali makanan dan minuman yang ada di rumahmu. 
          Engkau sendiri yang mengadopsi, mengasuh, dan memusuhinya, namun engkau tidak mengetahui rahasia di balik semuaitu. Kelak di akan menghancurkan dunia dan akhiratmu, karena engkau telah menyalahi kebenaran yang datang kepadamu dan mendustakan apa yang diwahyukan kepadanya. Hendaklah engkau dan seluruh makhluk mengetahui sesungguhnya Rabb langit dan bumi Maha melakukan terhadap apa yang Dia kehendaki. Dia Mahakuat, pemilik siksaan yang pedih, serta pemilik daya upaya, dan kehendak yang tidak dapat ditolak."(Al-Bidayah Wa An-Nihayah : I/221 dan Qishasul -Anbiya': Kisah Musa)
       Inilah Sang Pemilik Kekuasaan yang dengan mudahnya mempertemukan anak laki-laki itu dengan mereka tanpa mencari dan usaha keras. Siapakah anak laki-laki itu? Dia adalah anak yang akan mengahncurkan mereka semua! Inilah kekuasaan yang mengumumkan maksudnya dengan terus terang lagi menentang," Yang akibatnya ia menjadi musuh dan kesedihan bagi mereka." (Al-Qashash:8). Hal ini tidak lain agar Musa menjadi musuh yang akan menentang mereka, lalu hati mereka akan merasakan kesedihan, "Sesungguhnya Fir'aun dan Haman beserta tentaranya adalah orang-orang yang bersalah." (Al-Qashash: 8)
        Tetapi, bagaimana hal itu bisa terjadi? Padahal anak itu berada di antara mereka tanpa kekuatan dan tanpa tipu daya?
Pertanyaan tersebut pun dijawab dengan ayat berikut ini :
"Dan berkatalah istri Fir'aun, (Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu, janganlah kamu membunuhnya. Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak,' sedang mereka tiada menyadari." (Al-Qashash : 9).

           Kekuasaan Allah mampu membuat Fir'aun menerima Musa karena hati istrinya, setelah memasukkan Musa ke dalam bentengnya. Asiyah pun mengasuh Musa dengan penuh kasih sayang. Itulah tirau tipis dan transparan yang melindungi Musa, bukan senjata, kekuasaan, maupun harta. Asiyah menjaganya dengan kasih sayang dari hati seorang wanita. Melalui anak itu, Asiyah mampu menentang kebengisan, kekasaran, ketamakan, dan peringatan Fir'aun. Sungguh sangat mudah bagi Allah untuk membuat Fir'aun mau menjaga anak yang lemah itu meskipun tanpa tirai tipis ini. 
          "(Ia) adalah penyejuk mata hati bagiku dan bagimu," karena dia adalah utusan Allah yang dikirimkan kepada mereka untuk menjadi musuh dan menyebabkan kesedihan mereka (kecuali istri Fir'aun)."Janganlah kamu membunuhnya." Dialah yang akan memerangi Fir'aun dan tentaranya."Mudah-mudahan ia bermanfaat kepada kita atau kita ambil ia menjadi anak." Dialah yang menyembunyikan kekuatan yang sejak lama mereka takuti,"Sedang mereka tiada menyadari." Alangkah agungnya kekuatan yang mampu menentang mereka. (Fi Zhilal Al-Qur'an karya Sayid Quthub: V/279)
      Ibnu Abbas meriwayatkan bahwa Rasulullah bersabda,"Ketika aku dibawa Jibril dalam peristiwa Isra Mi'raj, aku mencium bau wangi. Maka aku pun bertanya,'Bau wangi apa ini?'Jibril menjawab,'Itu adalah Masyithah budak Fir'aun dan anak-anaknya. Ketika dia sedang menyisir rambut putri Fir'aun, sisirnya tiba-tiba terjatuh dari tangannya dan ia berkata, 'Bismillah.'
        Kemudian putri Fir'aun bertanya,'Apakah yang kau maksud (Rabbmu) adalah ayahku?"
       Masyithah menjawab,'Rabbku dan Rabb ayahmu adalah Allah.' Putri Fir'aun pun kembali bertanya,'Apakah kamu memiliki Rabb selain ayahku?' 
       Kemudian Fir'aun memanggil Masyithah dan bertanya,'Apakah kamu memiliki Rabb selain aku?'
       Masyithah menjawab,'Rabbku dan Rabbmu adalah Allah.'
       Mendengar jawaban seperti itu, Fir'aun pun memerintahkan untuk disiapkan tungku besar yang terbuat dari tembaga lalu diisi dengan minyak dan dipanaskan. Kemudian ia memerintahkan anak buahnya untuk melemparkan Masyithah ke dalamnya.
          Masyithah berkata,'Sesungguhnya aku mempunyai sebuah permintaan.' 'Permintaan apa?' tanya Fir'aun. 'Hendaklah engkau mengumpulkan tulang-tulangku dan tulang anak-anakku di dalam satu tempat,' kata Masyithah. Fir'aun pun menjawab,'Baiklah, aku akan melakukannya karena sebenarnya kamu mempunyai hak dari kami.'
        Lalu Fir'aun menyuruh para pengawalnya untuk melemparkan mereka. Maka para pengawalnya melemparkan mereka satu persatu, dan yang terakhir dilemparkan adalah seorang anak kecil. Anak itu berkata, 'Wahai ibu, bersabarlah dan janganlah engkau mundur, karena engkau berada pada kebenaran'."
         Ibnu Abbas melanjutkan,"Ada empat bayiyang bisa berbicara sewaktu mereka masih dalam ayunan. Pertama, anak kecil ini (Putra Masyithah). Kedua, anak yang bersaksi untuk Yusuf. Ketiga, putra juraij. Keempat, Isa bin Maryam."
          Iman yang kuat ini tidak akan bergeming oleh guncangan gunung sekalipun. Para penyihir Fir'aun yang beriman kepada Rabb Musa dan Harun pergi menghadap Fir'aun, lalu berkata sebagaimana yang diabadikan di dalam Al-Qur'an,"Mereka berkata, 'Kami sekali-kali tidak akan mengutamakan kamu daripada bukti-bukti yang nyata (mukjizat) yang telah datang kepada kami dan dari Tuhan yang telah menciptakan kami. Maka putuskanlah apa yang hendak kamu putuskan. Sesungguhnya kamu hanya akan dapat memutuskan pada kehidupan di dunia ini saja. Sesungguhnya kami telah beriman kepada Rabb kami, agar Dia mengampuni kesalahan-kesalahan kami dan sihir yang telah kamu paksakan kepada kami melakukannya. Dan Allah lebih baik (pahala-Nya) dan lebih kekal (azab-Nya)." (Thaha: 72-73).
       Kemudian Masyithah berkata, " Lakukanlah apa yang engkau kehendaki karena engkau dapat menentukan kehidupan dunia."
       Perkataan inilah yang kemudian diucapkan oleh Asiyah binti Muzahim, ketika dia bertemu dengan dua golongan . Golongan pertama adalah Musa As beserta para pengikutnya dan golongan kedua Fir'aun beserta bala tentaranya. Asiyah bertanya,"Siapakah yang menang?".
         Lalu dijawab,"Musa dan Harun."
          Maka Asiyah berkata,"Aku beriman kepada Rabb Musa dan Harun."
   Kemudian Fir'aun mengirimkan utusan kepadanya dan berkata,"Carilah batu yang paling besar! Jika dia tetap pada pendiriannya, maka lemparkanlah batu itu kepadanya. Namun jika dia menarik kembali perkataanya, maka berarti dia istriku."
       Ketika para utusan itu mendatangi Asiyah, dia menengadahkan pandangannya ke langit. Saat itu, dia melihat rumahnya di surga, maka dia tetap pada pendiriannya. Tak selang beberapa saat, Allah pun mencabut ruhnya, sebelum bebatuan itu mengenainya. Sehingga batu itu dilemparkan kepada jasad yang tidak bernyawa. (Tafsir Ibnu Katsir : III/394 dan lihat Tafsir Al-Qurthubi: XX/203)
       Mereka menyiksa Asiyah, tetapi di lain pihak ia malah tertawa ketika melihat rumahnya di surga. Oleh karena itu, Fir'aun berkata,"Tidakkah kalian melihat bahwa dia telah gila. Kita menyiksanya, tetapi dia malah tertawa!"
        Karena kesabaran, keimanan, ketetapan hati, dan perasaan takut kepada Allah, Asiyah berhak untuk dijadikan teladan bagi wanita-wanita yang beriman, taat, bertobat, beribadah, berpuasa, berjihad, dan berhaji. Allah SWT berfirman:
"Dan Allah membuat istri Fir'aun perumpamaan bagi orang-orang yang beriman, ketika ia berkata,'Ya Rabbku, bangunkanlah untukku sebuah rumah di sisi-Mu dalam Firdaus, dan selamatkanlah aku dari Fir'aun dan perbuatannya, dan selamatkanlah aku dari kaum yang zalim." (At-Tahrim:11).

       Doa istri Fir'aun dak sikapnya adalah bukti ketidakpeduliannya terhadap kekayaan dan kemegahan dunia. Padahal dia adalah istri Fir'aun, seorang raja paling agung pada waktu itu. Hidup di istana Fir'aun adalah tempat yang paling menyenangkan, karena seorang istri bisa mendapatkan apa saja yang dia inginkan.
        Dialah teladan agung dalam menaati Allah dari semua godaan dan rintangan ini. Oleh sebab itu, dia layak diabadikan dalam Al-Quran yang kekal, yang kalimatnya selalu dilantunkan di seluruh penjuru alam semesta, dan diturunkan melalui perantara malaikat Jibril. (Fi Zhilal Al-Qur'an: VI/3621, 3622)

3. MARYAM, Ibu Isa As
          Maryam adalah wanita satu-satunya yang melahirkan anak tanpa ayah. Dia adalah ibu dari kaum wanita Bani Israil di surga. Bahkan ada yang berpendapat bahwa dia adalah ibu dari semua wanita penghuni surga.
"Dan (ingatlah) ketika malaikat (Jibril) berkata, 'Hai Maryam, sesungguhnya Allah telah memilih kamu, menyucikan kamu, dan melebihkan kamu atas segala wanita di dunia (yang semasa dengan kamu'." (Ali Imran : 42)

Rasulullah bersabda "Maryam adalah sebaik-baik wanita pada masanya, dan Khadijah binti Khuwailid adalah sebaik-baik wanita pada masanya." (HR. Bukhari)

Rasulullah juga bersabda,"Cukup banyak laki-laki yang telah mencapai kesempurnaan, namun tidak ada wanita yang mencapai kesempurnaan kecuali empat orang. Maryam binti Imran, Asiyah istri Fir'aun, Khadijah binti Khuwailid, dan keutamaan Asiyah dibandingkan wanita lainnya laksana tsarid (bubur/roti yang diremuk dan direndam dalam kuah) di antara berbagai jenis makanan yang lain." (HR. Bukhati)

          Maryam hidup dilingkungan keluarga muslim. Ayahnya adalah Imran, syaikh Bani Israil. Sedangkan ibunya adalah Hannah binti Faqud bin Qanbal. Hannah telah mengajarkan pada kita pelajaran yang sangat berharga dalam mendidik anak. Sang suami juga membantunya dalam menyiapkan pendidikan yang agung ini meskipun dia meninggal dunia ketika Hannah seang hamil.

"... Ya Rabbku, sesungguhnya aku menazarkan kepada Engkau anak yang dalam kandunganku menjadi hamba yang shaleh dan berkhidmat (di Baitul Maqdis). Karena itu, terimalah (nazar) itu dariku. Sesungguhnya Engkaulah Yang Maha Mendengar lagi Maha Mengetahui."(Ali Imran : 35)

          Maryam pun tumbuh dengan pertumbuhan yang baik dalam hal panjang, lebar, tinggi, bentuk, penampilan, dan kecantikannya. Pertumbuhan ini terus berlangsung dengan bagus, baik dari sisi agama, ilmu, maupun akhlak. Allah pun memilih seorang yang saleh untuk mengurus anak yatim ini, dialah Nabi Zakaria As. Allah menggambarkan peristiwa ini melalui firman-Nya:
"Yang demikian itu adalah sebagian dari berita-berita gaib yang Kami wahyukan kepada kamu (wahai Muhammad).Padahal kamu tidak hadir beserta mereka (untuk mengundi)siapa di antara mereka yang akan memelihara Maryam. Dan kamu tidak hadir di sisi mereka ketika mereka bersengketa." (Ali Imran:44)

          Zakaria As pun mengasuh Maryam setelah dia lahir dari rahim seorang ibu yang salehah. Maryam telah lulus dari madrasah para nabi dan orang-orang yang benar. Gurunya adalah Nabi Zakaria dan materi pelajarannya ialah ilmu yang bermanfaat, amal saleh, budi pekerti yang luhur, adab yang mulia, ikhlas, dan kebaikan hati. Al-Qur'an telah menggambarkan bahwa Maryam diberi kehormatan yang tiada duanya. Di antaranya adalah ketika dia sedang sendirian di dalam tempat ibadah dan Zakaria meninggalkannya, maka diturubkan buah-buahan dari langit kepadanya. Buah-buahan yang istimewa, yaitu buah-buahan musim panas yang berbuah pada musim dingin dan buah-buahan musim dingin yang berbuah pada musim panas. Peristiwa ini tidak hanya terjadi sekali atau dua kali saja, tetapi terus terjadi berulang kali. Allah berfirman:

"Setiap Zakaria masuk untuk menemui Maryam di mihrab, ia dapati makanan di sisinya. Zakaria berkata,'Hai Maryam, dari mana kamu memperoleh (makanan) ini?' Maryam menjawab,'Makanan itu dari sisi Allah.' Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa hisab." (Ali Imran:37)
         Zakaria bertanya,"Darimana buah-buahan ini?"
      Maryam menjawab,"Buah-buahan itu dari Allah. Sesungguhnya Allah memberi rezeki kepada siapa yang dikehendaki-Nya tanpa disangka-sangka."
       Maryam mendedikasikan seluruh hidupnya untuk beribadah orang-orang menjulukinya Maryam Al-Batul (orang yang meninggalkan hidup duniawi untuk beribadah kepada Allah). Bahkan kelezatan ibadah telah membuatnya lupa menikah. Orang-orang menjulukinya Maryam Al-Adzra (perawan). Dengan demikian , dia disebut Maryam Al-Adzra Al-Batul.
          Diriwayatkan bahwa Maryam mengasingkan diri karena dia sedang haid, maka dia tinggal di tempat yang jauh. Tiba-tiba seorang lelaki yang sempurna datang kepadanya, sebenarnya lelaki itu adalah malaikat utusan Allah. Maryam pun menyerang lelaki itu. Apalagi dia telah masuk tanpa izin dan mengusik kesendiriannya.
            Maryam yakin bahwa lelaki itu hendak bermaksud jahat, maka dia menasihatinya dengan berkata, "Sesungguhnya aku berlindung darimu kepada Ar-Rahman, jika kamu seorang yang bertakwa." Lelaki itu pun menjawab,"Sesungguhnya aku adalah utusan Rabbmu,"lanjut lelaki itu," Aku akan memberimu seorang anak laki-laki yang suci." Mungkin seorang wanita yang berada pada kondisi demikian akan membayangkan kebiasaan orang orang jahat dan durhaka yang menyandarkan kejahatannya kepada Allah. 
Tanpa basa-basi, Maryam langsung berkata,"Bagaimana mungkin aku akan mempunyai anak sedangkan aku seorang perawan. Tak ada seorangpun yang pernah menyentuhku dan aku tidak pernah berzina."
          Malaikat Jibril mengejutkan Maryam dengan ujian dan cobaan yang berat, sembari menjelaskan bahwa kekuasaan Allah tidak bisa dibatasi oleh rintangan apa pun,"Demikianlah Rabbmu berfirman, dan hal itu mudah bagiku." Kemudian Jibril memberinya kabar gembira untuk menyatukan antara ujian yang berat dan kabar gembira yang agung,"Agar Kami dapat menjadikannya suatu tanda bagi manusia dan sebagai rahmat dari Kami." Apa yang Allah kehendaki pasti terjadi,"Hal itu adalah suatu perkara yang telah diputuskan."
          Al-Qur'an tidak menjelaskan tentang kelahiran anak yang tanpa ayah itu, karena pada ayat-ayat lain Al-Qur'an menjelaskan bahwa Jibril meniupkan ruh ke dalam tubuh Maryam. Oleh karena itu, dia pun mengandung Al-Masih dalam rahimnya. Allah berfirman :
"Dan (ingatlah kisah) Maryam yang telah memelihara kehormatannya, lalu Kami tiupkan ke dalam (tubuh)nya ruh dari Kami dan Kami jadikan dia dan anaknya tanda (kekuasaan Allah) yang besar bagi semesta alam)."(Al-Anbiya:91).

Dan firman-Nya:
"Dan (ingatlah) Maryam binti Imran yang memelihara kehormatannya, maka Kami tiupkan ke dalam rahimnya sebagian dari ruh (ciptaan) Kami." (At-Tahrim: 12)

          Allah juga telah menjaga kehormatannya, sebagaimana Dia telah memberinya seorang putra tanpa ayah. Sebenarnya tidak sulit bagi Allah untuk menciptakan seorang anak tanpa melalui proses kehamilan dan kelahiran, tanpa rasa sakit pada saat hamil dan melahirkan, serta tanpa tiupan. Namun, Allah ingin membiasakan Maryam untuk merasakan jerih payah terhadap sesuatu. Setelah itu, Maryam merasakan sakit pada saat hamil. Hal itu memaksanya bersandar pada pangkal pohon kurma. Dia berkata,"Oh alangkah baiknya jika aku mati sebelum ini dan aku menjadi barang yang tidak berarti, lagi dilupakan." Saat itulah, Isa terlahir dalam keadaan tenang dan karamah itu terulang lagi. Isa menyerunya dari bawah,"Janganlah engkau bersedih."
          Kemudian Isa melanjutkan perkataannya, "Sesungguhnya Rabbmu telah menjadikan anak sungai di bawahmu."(Maryam:24). Yaitu, sungai yang mengalir. Dan ini adalah karamah lain,"Dan goyanglah pangkal pohon kurma itu ke arahmu, niscaya pohon itu akan menggugurkan buah kurma yang masak kepadamu."(Maryam:25) 
          Isa As masih terus berbicara dalam pangkuan ibunya. Dia berkata,"Maka makan, minum, dan bersenanghatilah kamu. Jika kamu melihat seorang manusia, maka katakanlah , 'Sesungguhnya aku telah bernazar berpuasa untuk Rabb Yang Maha Pemurah, maka aku tidak akan berbicara dengan seorang manusia pun pada hari ini." (Maryam: 26).
           Maryam pun mendatangi kaumnya sambil menggendong putranya,"Maka Maryam membawa anak itu kepada kaumnya dengan menggendongnya." (Maryam:27). Ketika mereka melihatnya, mereka pun menuduh Maryam dengan tuduhan yang keji. Mereka menuduh Maryam telah berzina.
          Mereka telah menuduhnya berzina dengan orang saleh bernama Yusuf An-Najar. Mereka pun bertanya tentang sebab kehamilannya, terlebih karena Maryam adalah ibu wanita-wanita ahli ibadah di kalangan kaumnya dan putri dari imam mereka. Apalagi tidak pernah terdengar bahwa Maryam berduaan dengan seorang lelaki atau menciumnya. Maryam hanya bisa menunjuk kepada anaknya. Tentunya, hal ini mengobarkan amarah orang-orang Yahudi. Mereka mencacinya sebagai wanita pezina dan pendosa yang hina."Bagaimana kami akan berbicara dengan anak kecil yang masih di dalam ayunan?" (Maryam : 29).
          Saat itu terdengar suara kebenaran."Berkata Isa, 'Sesungguhnya aku ini hamba Allah. Dia memberiku Al-Kitab (Injil) dan Dia menjadikan aku seorang nabi. Dan Dia menjadikan aku seorang yang diberkati di mana saja aku berada, dan Dia memerintahkan kepadaku (mendirikan) shalat dan (menunaikan) zakat selama aku hidup, dan berbakti kepada ibuku, dan Dia tidak menjadikan aku seorang yang sombong lagi celaka. Dan kesejahteraan semoga dilimpahkan kepadaku, pada hari aku dilahirkan, pada hari aku meninggal, dan pada hari aku dibangkitkan hidup kembali'." (Maryam:30-33). Akhirnya semua orang pun sepakat atas kesucian Maryam.

4. FATIMAH binti Muhammad, Pemimpin Wanita Penghuni Surga
           Fatimah tumbuh dan berkembang di rumah seorang pemimpin anak Adam. Dia telah lulus dari sekolahnya, terdidik dalam pengawasannya, diasuh di bawah perlindungannya, dan putri seorang ayah yang sangat menyayanginya. Bahkan beliau akan memerangi siapa saja yang melawan putrinya dan menyelamatkan orang yang berdamai dengan putrinya.
            Jika Rasulullah melihat putrinya, maka beliau segera beranjak dan mengecupnya. Beliau juga selalu menempatkan pada kondisi pertama dan selalu menjadikannya yang pertama. Ketika Fatimah berumur lima belas tahun, dia menikah dengan putra pamannya, Ali bin Abi Thalib. Mereka hidup dengan sabar dalam keadaan fakir, lapar, susah, dan sengsara. Ali berkata,"Aku menikahi Fatimah dan kami tidak memiliki tempat tidur selain kulit domba. Kami tidur di atasnya di malam hari dan mencucinya di siang hari. Kami juga tidak memiliki pembantu."
            Ali mengisahkan ketika Rasulullah menikahkannya dengan Fatimah, beliau memberi hadiah Fatimah seprai dari kain beludru, bantal kulit yang berisi sabut, kantong air, dan dua bejana. Suatu hari, Ali berkata kepada Fatimah,"Demi Allah, aku telah menimba air sampai dadaku sakit. Allah telah memberi tawanan kepada ayahmu, pergilah dan mintalah seorang pembantu padanya!"
          Fatimah menjawab,"Demi Allah, aku juga telah menggiling tepung sampai kedua tanganku melepuh."
          Fatimah pun pergi menemui Nabi. Sesampainya disana, beliau bertanya,"Ada keperluan apa kamu datang, wahai putriku?"
           Fatimah pun menjawab,"Aku datang untuk memberi salam kepadamu."
           Fatimah merasa malu meminta pembantu kepada Rasulullah, maka dia kembali pulang. Sesampainya di rumah, Ali bertanya,"Apa yang telah kamu lakukan?"
          Fatimah menjawab,"Aku malu meminta sesuatu kepada Rasulullah."
          Akhirnya mereka berdua pergi menemui Rasulullah, lalu Ali berkata,"Demi Allah wahai Rasulullah, aku telah menimba air sampai dadaku sakit."
          Fatimah juga berkata,"Sedangkan aku telah menggiling tepung sampai kedua tanganku melepuh. Allah telah memberimu banyak tawanan, maka berikanlah pembantu kepada kami."
          Rasulullah pun menjawab,"Demi Allah, aku tidak akan memberi pembantu kepada kalian dan membiarkan orang-orang miskin kelaparan. Aku tidak memiliki harta benda yang dapat kuberikan kepada mereka, tetapi aku akan menjual tawanan-tawanan itu lalu hasilnya akan kuberikan kepada mereka."
           Mendengar jawaban itu Fatimah dan Ali pun beranjak pulang. Selang beberapa saat, Rasulullah mengunjungi mereka berdua ketika mereka sedang memakai seprai dari kain beludru. Bila seprai itu mereka gunakan untuk menutupi kepala, maka kaki mereka akan kelihatan. Dan bila mereka gunakan untuk menutup kaki, maka kepala mereka akan kelihatan. Lalu mereka berdua berdiri karena malu.
          Rasulullah bertanya,"Ini tempat kalian? Maukah kalian aku beri tahu tentang kebaikan yang kalian minta?"
           Mereka menjawab,"Ya."
           Rasulullah bersabda,"Jibril telah mengajariku beberapa kalimat. Yaitu, bacalah tasbih (Subhanallah) sepuluh kali, tahmid (Alhamdulillah) sepuluh kali setiap kali selesai shalat. Dan bila kalian beranjak ke tempat tidur, maka bacalah tasbih tiga puluh tiga kali, tahmid tiga puluh tiga kali, dan takbir tiga puluh empat kali."
          Ali berkata,"Demi Allah, aku tidak pernah meninggalkan kalimat-kalimat itu sejak Rasulullah mengajarkannya kepadaku." (HR. Bukhari dan Muslim)
          Rasulullah akan marah karena kemarahan putrinya dan ridha karena keridhaan putrinya. Ketika Ali hendak berpoligami dan menduakan Fatimah dengan menikahi putri Abu Jahal, Rasulullah berdiri di atas mimbar sembari bersabda,"Sesungguhnya Bani Hasyim bin Mughirah meminta izin kepadaku untuk menikahkan putri mereka dengan Ali bin Abi Thalib, tapi aku tidak mengizinkannya (diulang sebanyak tiga kali). Kecuali jika Ali bin Abi Thalib mau menceraikan putriku dan menikahi putri mereka. Karena, Fatimah itu belahan jiwaku. Aku akan bingung jika ia merasa bingung dan aku akan sakit jika ia sedang sakit" (HR. Tirmidzi)
          Ketika Rasulullah sakit yang terakhir kali menjelang wafatnya, Fatimah datang ke rumah beliau lalu dia menangis tersedu-sedu, kemudian tertawa. Mengapa dia tertawa?
           Aisyah berkata,"Aku duduk di samping Rasulullah, lalu Fatimah datang. Dia berjalan seperti jalannya Rasulullah.'Selamat datang, putriku.' sambut Rasulullah.
            Beliau menyuruh Fatimah duduk di sebelah kanan atau kirinya, kemudian membisikkan sesuatu kepadanya, hingga Fatimah menangis. Kemudian beliau membisikkan sesuatu kepada Fatimah, maka dia tertawa.
              Fatimah menjawab,'Aku tidak akan memberitahukan rahasia Rasulullah."
           Aisyah melanjutkan,"Setelah Rasulullah wafat, kucoba tanyakan kembali kepada Fatimah tentang hal itu. Fatimah pun menjawab,'Beliau bersabda, 'Sesungguhnya Jibril mendatangiku setiap tahun, lalu mengajariku Al-Quran satu kali. Tahun ini, dia (Jibril) mendatangiku lalu mengajariku Al-Qur'an dua kali. Aku tidak menyangka, ternyata ajalku telah tiba. Sebaik-baik orang salaf bagimu adalah aku.' Beliau melanjutkan,' Engkau adalah keluargaku yang paling cepat menyusulku.'
          Fatimah berkata,'Itulah yang membuatku menangis. Kemudian Rasulullah bersabda lagi,'Apakah engkau tidak ridha menjadi pemimpin kaum wanita umat ini atau kaum wanita di seluruh alam semesta?'
           Fatimah berkata,'Itulah yang membuatku tertawa'," (HR. Bukhari)
           Selang enam bulan dari wafatnya Rasulullah (sebagian ulama berpendapat selang empat bulan-penj), pemimpin wanita penghuni surga ini pun menyusul ayahnya yang berpredikat sebagai pemimpin surga secara keseluruhan.

5. KHADIJAH binti Khuwailid
           "Allah tidak memberiku pengganti yang lebih baik dari Khadijah. Dia beriman kepadaku ketika orang-orang mengingkariku, dia percaya kepadaku ketika orang-orang menganggapku dusta, dia memberikan hartanya kepadaku ketika orang-orang mengekangnya, dan dia memberiku anak ketika istri-istriku yang lain tidak memberiku anak." 
          Aisyah berkata,"Wahyu pertama yang diterima Rasulullah adalah mimpi yang benar di dalam tidurnya. Beliau tidaklah bermimpi kecuali datang seperti cahaya subuh. Kemudian beliau menyendiri dalam rangka ibadah kepada Allah di gua Hira.'
            Beliau beribadah di sana selama beberapa malam sebelum akhirnya beliau kembali lagi kepada keluarganya untuk mengambil bekal. Kemudian beliau kembali kepada khadijah dan membawa bekal untuk beberapa malam. Lalu datanglah kebenaran ketika beliau sedang berada di gua Hira'. Malaikat Jibril datang lalu berkata,'Bacalah!'
          Rasulullah menjawab,'Aku tidak bisa membaca.'
        Beliau pun melanjutkan,'Lalu malaikat meraih dan memelukku dengan erat hingga aku merasa sesak, setelah itu ia melepaskanku. Jibril kembali berkata,'Bacalah!'
         Aku jawab,'Aku tidak bisa membaca.'
         Dia kembali meraih dan memelukku dengan erat hingga aku merasa sesak, lalu dia melepaskanku lagi. Dia kembali berkata,'Bacalah!'
          Aku jawab,'Aku tidak bisa membaca.'
          Lalu dia kembali meraih dan memelukku sampai aku merasa sesak, setelah itu melepaskanku. Dia (Jibril) berkata, 'Bacalah dengan menyebut nama Rabbmu yang menciptakan,' sampai ayat 'Dia mengajarkan kepada manusia apa yang tidak diketahuinya.' (Al-'Alaq:1-5)
          Setelah itu, beliau pulang dalam keadaan menggigil. Sesampainya di tempat Khadijah, beliau berkata,'Selimutilah aku! Selimutilah aku!'
           Setelah rasa takutnya hilang, beliau berkata,'Wahai Khadijah, apa yang terjadi pada diriku?'
         Khadijah pun memberitahukan keadaan beliau. Rasulullah berkata,'Aku takut pada diriku sendiri.'
          Maka Khadijah berkata,'Tidak, bergembiralah. Demi Allah, Allah sungguh tidak akan menyusahkanmu karena engkau telah menyambung tali silaturahmi, berkata jujur, menanggung beban orang yang tidak mampu, membantu orang fakir, menghormati tamu, dan menolong kebenaran.'
          Lalu Rasulullah dan Khadijah pergi menemui Waraqah bin Naufal bin Asad bin Abdil Uzza. Waraqah bin Naufal adalah putra dari paman Khadijah atau saudara ayahnya. Dia adalah orang Nasrani pada masa Jahiliyah. Dia menulis kitab berbahasa Arab. Dan atas izin Allah, dia menulis Injil dengan bahasa Arab. Dia telah berusia lanjut dan buta.
         Khadijah berkata kepada Waraqah,'Wahai anak pamanku, dengarkanlah anak saudaramu ini.'
         Waraqah bertanya,'Wahai anak saudaraku, apa yang telah terjadi pada dirimu?'
          Lalu Rasulullah menceritakan semua peristiwa yang beliau alami di gua Hira'. Setelah itu, Waraqah berkata,'Itu adalah Namus (malaikat) yang diutus Allah kepada Musa. Andaikan usiaku masih muda dan andaikan aku masih hidup ketika engkau diusir oleh kaummu.'
             Rasulullah bertanya,'Apakah mereka akan mengusirku?'
         Waraqah menjawab,'Ya, tak ada seorang pun yang diberi tugas sepertimu kecuali dia akan disakiti. Kalau saja pada saat itu aku masih hidup, pasti aku akan menolongmu.'
           Tak lama kemudian, Waraqah meninggal dunia dan wahyu pun berhenti untuk sementara." (HR. Bukhari)
           Khadijah membantu orang-orang lemah dengan hartanya setelah orang-orang kafir mengusir mereka dan melarang mereka bekerja. Dia menafkahkan hartanya untuk memerdekakan hamba sahaya yang mengalami berbagai macam siksaan berat setiap pagi dan sore, karena mereka menjauhi berhala dan mengatakan,"Rabb kami adalah Allah."
            Jibril pernah datang kepada Rasulullah dan berkata:
"Wahai Rasulullah, ini Khadijah datang kepadamu dengan membawa wadah yang berisi lauk pauk, makanan, atau minuman. Bila dia telah datang kepadamu, sampaikan salam untuknya dari Rabbnya dan dariku." (HR. Bukhari)

          Sungguh kemuliaan yang besar. Rabb semesta alam memberi salam kepada Khadijah. Ditambah lagi, tatkala Jibril datang kepada Rasulullah dan berkata kepadanya, "Berikanlah kabar gembira kepada Khadijah. Dia akan memperoleh rumah di surga yang terbuat dari mutiara yang cekung. Di dalamnya tidak ada kebisingan dan kelelahan." (HR. Ahmad)
           Rasulullah sering memujinya, kendati Khadijah telah wafat. Aisyah bahkan pernah berkata,"Aku tidak pernah cemburu kepada istri Rasulullah sebagaimana kecemburuanku kepada Khadijah, karena aku mendengar beliau selalu mengingatnya. Beliau tidak menikahiku kecuali selang tiga tahun dari kematian Khadijah, dan dia memberinya anak. Allah menyuruh beliau memberikan kabar gembira kepadanya dengan sebuah rumah di surga yang terbuat dari mutiara. Di dalamnya tidak ada kebisingan dan kelelahan." (HR. Bukhari)







Tidak ada komentar:

Posting Komentar

WANITA DIRINDU SURGA

MAYORITAS PENGHUNI SURGA ?           Dalam suatu kondisi, mayoritas penghuni surga adalah wanita. Hal itu jika kita mengumpulkan semua wa...